#RobotWorks Palangkaraya: We are learners, we turn ON life.

View this post on Instagram

Seberapa greget malam minggumu? Listrik padam satu kota sejak kemarin, kami cari genset, kami patungan beli bensin. Terus? Terus kami pakai untuk menyalakan lampu dan laptop di lab agar bisa lanjutkan pelatihan robotika sampai malam. Eaaa … a .. a. Begitulah semangat teman-teman di Tadris Fisika IAIN Palangkaraya di hari kedua pelatihan robotika bersama Kokaro tanggal 2-3 November 2018. Hari pertama, karena di luar dugaan, qodarulloh, listrik padam akibat robohnya menara sutet. Kami belajar di selasar gedung rektorat yang ada gensetnya. Genset yang ada di Laboratorium Fisika sedang diperbaiki. Alhamdulillah hari kedua pagi mendapat giliran pasokan listrik kota untuk 3 jam. Siang dilanjutkan dengan genset. Selepas ashar, genset mati karena bahan bakar habis. Malam dilanjutkan setelah mendapat tambahan bahan bakar. Bahan bakar buat semua tentunya: genset, peserta, dan narasumbernya. Hahaha. Semoga semangat mereka menjadi pembuka keberkahan ilmu pada langkah-langkah berikutnya hingga akhir. We are learners. We turn ON life. Aayo, buat sendiri robotmu! #kokaro #robotworks #robot #arduino #serial #bluetooth #wifi #esp8266 #physicalcomputing #iot #steamlearning #iainpalangkaraya #tadrisfisika #fisika #pembelajaran #sains #palangkaraya #kalimantantengah

A post shared by Komunitas Kampung Robot (@kokaroid) on

Posted in Berita, Pelatihan | Tagged , , | Comments Off on #RobotWorks Palangkaraya: We are learners, we turn ON life.

Tantangan Mengenalkan Robotika kepada Anak-anak

Posted in Berita | Tagged , , | Comments Off on Tantangan Mengenalkan Robotika kepada Anak-anak

#RobotWorks di Sekolah Baruku Malang

Posted in Berita, Pendidikan Karakter | Tagged , , , | Comments Off on #RobotWorks di Sekolah Baruku Malang

Teknologi untuk Anak Kita

majalah al uswahKita hidup di era teknologi, tak bisa dihindari lagi. Ungkapan ini sering kita dengar dalam pembicaraan di tengah-tengah masyarakat, bukan hanya baru-baru ini tetapi sudah sejak beberapa tahun yang lalu. Apa yang menjadikan masyarakat kita demikian? Nyatanya, memang saat ini kita dikelilingi dengan berbagai produk teknologi sejak kita bangun tidur hingga tidur kembali.

Sebagian orang menyebutkan bahwa lompatan perkembangan teknologi yang signifikan terjadi sejak penemuan komputer dan kemudian internet. Komputer yang awalnya terbatas digunakan di lingkungan perkantoran dan akademisi kini merambah ke hampir semua bidang pekerjaan. Lebih-lebih ketika diperkenalkannya PC – personal computer, komputer dipakai di rumah-rumah. Internet kemudian menyambungkan jutaan komputer di seluruh dunia menjadikan batasan ruang dan waktu semakin tak kentara.

Namun hadirnya produk-produk teknologi dalam keseharian kita tak hanya membawa keuntungan. Sebagaimana pisau yang bisa untuk menyelamatkan tetapi juga bisa untuk mencelakakan. Apalagi sejak setengah dasawarsa terakhir ketika ponsel menjadi gawai cerdas, yaitu smartphone dan adanya aplikasi media sosial, permasalahan sosial kemasyarakatan meningkat tajam. Di antara permasalahan tersebut seperti penyebaran informasi yang semakin tak terkendali banyaknya dan kebenarannya, juga tindakan kejahatan dengan menggunakan fitur-fitur yang tersedia pada gawai dan aplikasinya. Para orang tua stress karena anak-anaknya tak bisa lepas dari gawainya. Nomophobia seakan-akan menjadi wabah penyakit masa kini, menjadikan seseorang merasa takut, tidak percaya diri, dan gelisah jika gawai tidak berada di dekatnya.

Karena kekhawatiran seperti itulah, sebagian orang tua memilih melarang anak-anaknya menggunakan gawai dan media sosial, bahkan mengakses internet. Sebagian lainnya ada yang merasa biasa saja, bahkan cenderung membebaskan dengan alasan sudah zamannya. Begitu juga di lingkungan sekolah. Ada sekolah yang dengan ketat melarang, bahkan secara rutin melakukan razia. Sementara, tak sedikit sekolah yang membiarkan murid-muridnya secara bebas membawa dan menggunakan smartphone di lingkungan sekolah. Apa yang kemudian terjadi?

Kedua penyikapan di atas tak jarang menimbulkan masalah baru. Membebaskan, sudah pasti akan lebih banyak dampak buruknya. Apapun jika dibebaskan begitu saja, cepat atau lambat akan menimbulkan masalah. Begitulah hukum alamnya. Bagaimana dengan yang melarang?

Melarang saja sepertinya tidaklah cukup. Jika kita sedang melakukan perjalanan dan menemui kemacetan yang parah atau jalan buntu, apa yang kita lakukan? Kita akan mencari jalan alternatif. Berbagai kemungkinan akan kita coba apalagi jika tujuan perjalanan tersebut sangat diinginkan. Tetapi jika semua jalan ditutup, apa yang akan kita lakukan? Sebagian dari kita mungkin memilih diam menunggu. Tetapi tanpa perbekalan atau peralatan yang cukup, waktu menunggu menjadi tidak produktif. Mungkin sebagian lainnya mungkin memilih kembali, membatalkan perjalanan. Bagaimana jika seperti ini sering terjadi? Salah satu dampaknya adalah sikap pesimis. Seandainya ada yang menunjukkan satu saja jalan alternatif, atau membantu memberikan alternatif pengisi waktu menunggu sehingga produkti, tentu keadaan akan lebih baik.

Kenyataannya, tak jarang kita jumpai orang tua melarang anaknya hanya dengan larangan saja. Sekolah melarang muridnya hanya dengan larangan saja. Anak atau murid diberi black list, sehingga yang diketahui hanya daftar larangan. Misalnya, ada daftar beberapa situs yang dilarang diakses, ada daftar beberapa game yang dilarang dimainkan, dan lain-lain. Tetapi, di saat lain ketika ada tugas, mereka diminta searching di internet, tanpa saran situs yang layak dikunjungi atau kata kunci yang perlu dicoba. Seperti seorang gadis dari desa yang ditinggalkan seorang diri di kota. Di sinilah masalah besar bermula.

Untuk menghindarinya, kita perlu memberikan white list, daftar kegiatan yang dianjurkan, daftar situs yang baik untuk dikunjungi, daftar software aplikasi yang berguna, daftar permainan yang mengasah kreativitas, dan sebagainya. Namun, walaupun sudah ada white list bukan berarti mereka dibiarkan tanpa pendampingan. Bagaimanapun juga, anak-anak butuh pendampingan dari orang tuanya di lingkungan rumah dan dari para gurunya di lingkungan sekolah.

Pendampingan sangat diperlukan untuk memahamkan anak-anak terhadap teknologi dan pemanfaatannya sesuai dengan tujuannya. Beberapa pertanyaan seputar teknologi bisa kita diskusikan dengan mereka. Untuk apakah teknologi ada dalam kehidupan kita? Mengapa kita manusia mengembangkan teknologi? Apa yang ingin kita capai dengan memanfaatkan teknologi? Dan lain-lain.

Pada pertengahan abad 9 M, ada seorang laki-laki nekat dari Spanyol atau Andalusia. Dia melompat dari menara sebuah masjid. Apa yang terjadi? Ya, tentu saja jatuh. Tapi ajaib, dia hanya menderita patah tulang kakinya. Dialah Abbas ibn Firnas, orang pertama yang mencoba terbang. Dia membuat semacam sayap atau parasut yang membuatnya sedikit melayang saat jatuh sehingga tidak mengalami benturan keras. Walau sudah patah tulang kaki, Abbas tidak jera. Sekitar dua puluh tahun kemudian dia naik ke atas bukit dan memanggil semua orang untuk menyaksikan bahwa dia akan terbang. Dikisahkan bahwa Abbas berhasil melayang sekitar sepuluh menit dengan sayap buatannya (kira-kira seperti gantole saat ini). Namun sayang, pendaratannya tidak berhasil baik sehingga dia mengalami cedera pada tulang punggung. Ketika meninggal, Abbas ibn Firnas meninggalkan catatan-catatan penting tentang penelitiannya untuk terbang. Jasanya diabadikan dalam bentuk sebuah jembatan dengan desain seperti sayap burung di Cordoba. Seribu tahun kemudian, kita mengetahui Wright bersaudara berhasil membuat pesawat terbang dan terbang dengannya. Dengan pesawat terbang inilah yang kini merupakan salah satu produk teknologi transportasi, kita dapat menjangkau jarak yang jauh dalam waktu yang singkat. Maka, perjalanan menunaikan ibadah haji yang dulu ditempuh dalam waktu berbulan-bulan kini hanya beberapa jam.

Dalam buku The Book of Knowledge of Indigenous Mechanical Devices (Kitab fi Ma’rifat Al-Hiyal Al-Handasiyya atau Al-Jami’ bayn Al-‘Ilm wa Al-‘Amal Al-Nafi’ fi Sina’at Al-‘Hiyal), Al Jazari mendokumentasikan bermacam-macam desain peralatan mekanik otomatis karyanya. Di antaranya ada jam yang ditenagai dengan air. Keberadaan jam sebagai penanda waktu sangatlah penting, lebih-lebih bagi muslim yang mempunyai kewajiban beribadah pada waktu-waktu yang telah ditetapkan. Dulu, orang menggunakan jam matahari yang hanya bisa dipakai jika matahari tampak. Al Jazari hidup pada abad 13 M. Bagaimana jika malam? Maka dibuatlah jam dengan tenaga air. Jam merupakan produk teknologi yang sangat membantu kita untuk mengatur jadwal kegiatan dan menertibkan ibadah.

Kita dapat menemukan jawaban atas beberapa pertanyaan tentang teknologi dari kedua kisah di atas. Teknologi merupakan ilmu tentang cara. Ketika seorang anak mencari kayu digunakan sebagai galah untuk memetik buah mangga di pekarangan rumahnya, maka anak tersebut telah berpikir tentang teknologi dan galah yang digunakannya itu adalah produknya. Galah menjadi solusi atas keterbatasan tinggi badan kita, sehingga keberadaannya menjadi bantuan bagi kita. Dengan bantuan galah tersebut, kita bisa mencapai keinginan untuk mengambil manfaat dari buah mangga misalnya diberikan sebagai hadiah kepada tetangga atau teman, dijual, atau untuk dimakan sendiri.

Mengenalkan teknologi kepada anak-anak kita hendaknya disertai dengan ajakan berpikir tentang cara untuk mencapai sesuatu yang diinginkan kemudian diterapkan menjadi suatu produk atau memanfaatkan alat yang sudah ada untuk mencapainya. Sebagaimana contoh sederhana di atas, ada banyak contoh lainnya di sekitar kita untuk mengembangkan pemahaman anak tentang teknologi dengan harapan tumbuhnya kesadaran akan pemanfaatan teknologi secara positif dan produktif. Lambat laun anak akan mampu berpikir secara mandiri dan menghasilkan white list baru. Kemampuan berpikir seperti ini perlu terus dilatih sehingga menjadi suatu keterampilan. Senyampang baru-baru ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menekankan perlunya HOTS, higher order thingking skills, yaitu keterampilan berpikir tingkat tinggi yang secara kognitif berada pada 3 anak tangga bagian atas dari tangga Bloom Taxonomy, yaitu keterampilan melakukan analisis, evaluasi, dan berkreasi. Mari, dampingi anak-anak kita untuk menjadi pengguna teknologi sebagai sarana menguasai urusan dunia dan membantu kemudahan urusan akhirat untuk meraih ridlo Alloh Arrohman.

* Ditulis oleh Arief A. Yudanarko, Pendiri Komunitas Kampung Robot
* Dimuat di Majalah Al Uswah Edisi 16 – Juni 2018

Posted in Catatan, Pendidikan Karakter | Tagged , | Comments Off on Teknologi untuk Anak Kita