Ada Karakter pada Line Tracer

Robot XLITE – eXpandable LIne TracEr

Ini robot yang kuberi nama XLITE, keluarga robot line tracer.
Mau jalan kalau ada garis, gak ada garis cuma bisa muter-muter.

Walau sudah diberi garis, kadang-kadang dia bisa salah.
Apalagi kalau ada sinar terang, silaunya mengubah arah.

Agar terhindar darinya, dipakaikanlah pengaman.
Semoga tetap ikuti jalan, dan sampailah pada tujuan.

Makanya, kujadikan robot ini untuk pendidikan karakter.
Semoga generasi ini makin pinter tapi nggak keblinger.

Posted in Catatan, Proyek Robot | Tagged , | Comments Off on Ada Karakter pada Line Tracer

Robot Menjadi Simpul Kerjasama Mereka

Mereka masih remaja dan bertumbuh di atas cita-citanya. Bukan hanya kebetulan atau mengekor teman sehingga memilih kegiatan ekstrakurikuler robotika di sekolahnya. Namun setelah sekian lama, mereka merasakan kejenuhan.

Hari itu, usai shalat Asar berjamaah di masjid sekolah, kami berkumpul di ruang rapat. Kepala Sekolah yang mengundang saya untuk menjadi fasilitator menggairahkan kembali kegiatan mereka. Guru pembimbing ikut serta. Diskusipun dibuka.

Dari cerita mereka tentang bagaimana kegiatan berjalan selama ini, saya mendapatkan titik api untuk membakar semangat anak-anak muda ini.

“Coba kalian ceritakan apa yang kalian sukai dan ilmu atau keterampilan apa yang ingin kalian dapatkan dengan mengikuti ekskul robotika ini.”

“Saya suka membuat programnya, tapi sebenarnya saya ingin menguasai programming untuk web dan Java.” Jawab yang pertama.

“Kalau saya senang bikin rangkaian elektronika, Pak.” Yang kedua menjawabnya singkat.

“Sejak SMP saya suka mekanik, otak-atik barang-barang. Dan saya ingin menguasai ilmu mekanik ini.” Sahut yang ke-3.

Begitu seterusnya mereka bergantian sampai orang terakhir mengungkapkan kesukaan dan keinginannya. Secara garis besar kesukaan dan keinginan mereka itu saya kelompokkan menjadi 3 bidang, yaitu mekanik, elektronika, dan komputer (programming).

Kemudian saya menjelaskan bahwa pilihan mereka di kegiatan pengembangan robot dalam ekskul robotika sudah tepat. Lihat sekarang saja, kehidupan kita sudah begitu hebat dipengaruhi oleh teknologi. Bagaimana dengan tahun-tahun yang akan datang? Dan yang penting untuk kita sadari bahwa produk teknologi yang ada di sekitar kita ini dipikirkan dan dikembangkan oleh banyak orang dengan berbagai keahlian.

Kalian adalah remaja-remaja yang beruntung, di usia SMA kalian sudah mendapatkan kesempatan untuk bekerja sama layaknya para ahli yang mengerjakan suatu proyek besar. Kalian yang suka programming dan ingin matang di situ, silakan kembangkan kemampuan kalian. Robot yang di-remote melalui website mulai banyak dikembangkan. Dengan teknologi ini, seorang dokter bedah di Jakarta bisa mengoperasi pasiennya yang berada di Surabaya. Mungkinkah yang demikian dikerjakan oleh orang-orang yang hanya pakar di kedokteran? Tidak, butuh banyak pakar lainnya: mekanik, elektronika, programming, networking, telekomunikasi, dan lain-lain.

Tetaplah fokus pada keahlian yang kalian inginkan, namun buatlah proyek bersama yang bisa menjadi media belajar kalian dalam banyak hal. Saya katakan banyak hal karena dengan proyek bersama itu kalian tidak hanya belajar tentang cabang ilmu masing-masing: mekanik, elektronika, pemprograman. Dengan proyek bersama itu, kalian bisa belajar tentang kerjasama, tentang manajemen, tentang komunikasi atau hubungan, dan lain-lain yang kelak akan sangat berguna dalam kehidupan bermasyarakat. Itu yang sekarang ini disebut dengan hardskill dan softskill.

Dan proyek robot menjadi titik temu kalian.

Itulah pertemuan saya dengan sekelompok siswa sebuah SMA dua bulan lalu (Maret). Pertemuan ini membuat saya semakin bersemangat. Semoga pula menjadikan mereka lebih bersemangat.

Posted in Berita, Catatan | Tagged , | Comments Off on Robot Menjadi Simpul Kerjasama Mereka

Satu Lagi Komunitas Robotika Baru Terbentuk

19 April 2013 09:52

“Askum.
Pak mau tanya. Apakah saya bisa bergabung di komunitas robotik? saya pemula pak.”

Sebuah pesan pendek masuk di smartphone saya.

“Waalaikumsalam, silakan gabung di komunitas robotika atau kalau bisa ajak teman2, ayo buat komunitas sendiri lalu dihubungkan dg komunitas lain. Sy siap bantu.” Balas saya. “Oh ya, maaf, ini siapa dan dari mana?”

“Cara gabung ke komunitas bapak bagaimana caranya pak?” Tanyanya kemudian. “Oh ya pak. Nama saya Nizar. Alamat saya … (tidak perlu saya sebutkan di sini :)”

“Mudah. Mencatatkan diri: nama, nomor telepon, dan alamat. Nanti kalo ada kegiatan dihubungi. Apa pernah ikut kegiatan sy? Dpt nomor sy dr mana?”

“Saya belum pernah ikut pak. saya dpet nomor bapak dari internet. Kalau gitu saya mau daftar pak.”

“Masih sekolah, kuliah, atau sdh kerja? Aktivitas skrg d mana? InsyaAlloh tengah Mei sy ada agenda di Jateng.”

“Saya masih sekolah kelas 2 SMK ngambil jurusan komputer pak. Apakah saya bisa ikut pak?”

“Sy justru senang kalau msh sekolah ada ketertarikan utk belajar. InsyaAlloh akan positif. Di SMK mana?”

“Oh ya pak. Saya sekolah di SMK BHAKTI …”

“Ajak beberapa teman bentuk komunitas, di sekolah atau rumah, mana saja yang lebih mudah, supaya belajarnya meriah, insyaAlloh berkah :)”

“Oh ya pak nanti saya ajak teman2 & segera membentuk komunitas robot. nanti kalau sudah bagaimana sistemnya pak? bapak mau datang ke sini atau gimana pak?”

“Ya nanti kita diskusi online dulu. Kalo pas ada undangan ke dekat2 situ kita kontak2an semoga bisa mampir.”

“Oh ya pak sip sem0ga bisa mampir kesini ya pak. Trimakasih banyak pak.”

—–

22 April 2013 09:28

“Assalamu’alaikum. Pak saya akan mengirimkan pesan pendaftaran teman saya kepada bapak dengan format
.Nama
.No HP
.Alamat
Nanti tak kirim satu per satu pak.”

Lalu, 5 SMS berikutnya berturut-turut menyebutkan nama, nomor handphone, dan alamat mereka yang direkrut Nizar untuk bersama-sama membentuk komunitas robotika di daerahnya.

“Sekalian alamat yg akan dijadikan sekretariat atau markas komunitas dan alamat email ya. Nanti kalau sy agak longgar, sy kirim contoh robot sederhana.”

—–

Maka, hari ini telah terbentuk satu lagi komunitas robotika baru. Semoga semakin banyak remaja yang tergugah semangatnya untuk belajar hal-hal positif melalui kegiatan pengembangan robotika. Dan semoga langkah-langkah kecil yang telah diawali Kampung Robot sejak bernama Cerdikia beberapa tahun lalu menjadi inspirasi bagi tumbuhnya generasi yang kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab bagi diri dan lingkungannya sebagai bentuk syukur kepada Penciptanya.

Posted in Berita, Catatan | Tagged , | Comments Off on Satu Lagi Komunitas Robotika Baru Terbentuk

Technology … Not Just Engineering, Man!

Berikut ini adalah tulisan dari Pak Adriano Rusfi di sebuah forum. Silakan menyimak tulisan, semoga menjadi inspirasi.

Mengajar di sebuah Fakultas Teknik sebuah kampus prestisius membuat saya terkesima. Di gerbangnya saya dihadang oleh sebuah tulisan megah : Faculty of Engineering. Yup ! Itu adalah terjemahan bahasa Inggris dari “Fakultas Teknik”. Tapi saya coba simpan gelisah dalam-dalam, sampai seseorang yang kompeten dapat menjelaskannya. : Kenapa Fakultas Teknik, bukan Fakultas Teknologi ? Kenapa Faculty of Engineering, bukan Faculty of Technology.

Gelisah itu terlupakan saat saya mulai mengajar topik “Technological Performance Index”. Dan saya memang sangat mudah lupa. Saya, seperti biasa, dengan sangat bergairah bercerita tentang sebuah indeks yang dapat mengukur pencapaian teknologis sebuah bangsa. Ada Technological Behavior, ada Technological Result, ada Technological Mission. Sebuah anomali, memang, kok seorang psikolog hobby betul mengurusi teknologi.

Lalu, gelisah itu menyeruak lagi, saat seorang mahasiswa berkata :

“Sebenarnya kampus telah mengajarkan kami teknologi secara benar. Tapi negaralah yang sebenarnya bersalah besar tak mengurus teknologi di jalan yang seharusnya. Bukan sekadar tentang teknologi, bahkan kami diajarkan Technopreneurship dan Etika Engineering”

Tiba-tiba saya seperti mendapatkan sebuah titik terang untuk bertanya sekaligus klarifikasi :

“Apa yang anda pelajari tentang Etika Engineering ?”

Tampaknya dia seorang mahasiswa cerdas dan berkarakter, sehingga menjelaskannya dengan cukup panjang dan jelas. Diantaranya adalah :

“Kami belajar tentang kaidah, metode, prosedur dan standard moral dalam mengutak-atik dan mengembangkan sebuah teknologi”

Ufff…. Saya menghembuskan napas panjang…. Jadi, engineering adalah ilmu utak-atik terhadap sebuah (produk) teknologi. Semacam mengutak-atik kulkas sehingga bisa berubah menjadi AC ? Itukah engineering : rekayasa ? Wow, pantesan bangsa ini tak kunjung menguasai teknologi, karena teknologi identik dengan engineering, dan engineering identik dengan utak-atik.

Sebuah keliru besar jika teknologi dipahami sebagai benda konkret dengan konstruksi yang rumit. Sebuah keliru besar ketika teknologi tak lagi dibedakan dengan produk teknologi. Padahal, selama kata “logi” masih bersemayam di belakang kata “tekno”, maka sesungguhnya “teknologi” adalah sesuatu yang abstrak : sebuah formula, sistem atau blueprint. Sedangkan kulkas dan AC adalah produk teknologi, bukan teknologi itu sendiri.

Sedangkan tentang engineering yang dianggap identik dengan teknologi, sebenarnya nggak salah-salah amat. Teknologi memang buah rekayasa, tapi rekayasa terhadap gejala, bukan rekayasa terhadap benda. Kehadiran AC adalah upaya rekayasa terhadap suhu, bukan rekayasa terhadap kulkas. Jadi, jika anda ingin menghasilkan AC, maka datanglah ke gurun, rasakan panas suhunya, lalu rekayasalah lewat produk tertentu agar suhunya menjadi sejuk. Bukan malah datang ke laboratorium pendingin untuk mengutak-atik kulkas agar berubah menjadi AC.

Inilah yang disebut sebagai fungsi ke lima dari sains, yaitu “memanipulasi gejala”, yang dalam bahasa teknologi disebut engineering. Tapi, begitulah nasib bangsa ini. Ketika teknologi dipahami sebagai sesuatu yang kongkret, bukan sesuatu yang abstrak, maka engineeringpun identik dengan utak-atik benda canggih, bukan utak-atik gejala. Entah kenapa, pendidikan kita selalu keliru.

Posted in Catatan | Comments Off on Technology … Not Just Engineering, Man!

The Real RobotCamp: Darbi Techno Science Camp

Ini di luar dugaan. Sebelumnya saya sudah diberitahu bahwa pelaksanaan RobotCamp bagi siswa kelas 7 dan 8 SMPIT Darul Abidin Depok ini di sebuah tempat di Cikreteg, bukan di Depok. Dari nama tempatnya, saya membayangkan sebuah villa. Namun begitu sampai di lokasi, puluhan tenda sudah disiapkan sebagai tempat menginap para peserta. Dan sebuah aula seperti rumah panggung yang akan menjadi tempat pelatihan robotika.

Begitulah kesan Yudanarko, pendiri dan pelatih Kampung Robot yang merasa mendapatkan kejutan dari panitia. Kejutan yang justru menyadarkan bahwa teknologi hendaknya bisa dihadirkan di manapun tempatnya.

Maka, pelatihan pun berjalan. Dibuka pukul 11 pagi hari Rabu, 27 Maret 2013, dengan diskusi dan permainan tentang Sejarah Perkembangan Teknologi. Proyek robot yang dikerjakan pada Darbi Techno Science Camp tahun ini adalah Robot VISILIFE. Semakin lama peserta semakin bersemangat. Menjelang pukul 10 malam, kegiatan diakhiri dengan perlombaan balapan dan penghargaan desain terbaik, kemudian dilanjutkan dengan pesta api unggun di lapangan. Meriah sekali.

Keesokan paginya, ada hiking mengitari bukit dan outbond. Inilah mengapa Darbi Techno Science Camp disebut The Real RobotCamp.

Posted in Berita, Pelatihan | Tagged | Comments Off on The Real RobotCamp: Darbi Techno Science Camp